home

Tampilkan postingan dengan label Jagad Raya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jagad Raya. Tampilkan semua postingan

Selasa, 09 April 2013

Mengapa Langit Berwarna Biru? Inilah Jawabannya


ble sky langit biru
Warna biru tampak indah dilangit pada siang hari disaat terik matahari menyinari permukaan bumi yang tampak seperti kelereng biru bila dilihat dari luar angkasa.
Saat malam menjelang pun, disaat cahaya bulan menyinari permukaan bumi, warna langit itupun terlihat tampak seperti warna langit di siang hari yaitu warna biru.
Sebuah pertanyaan muncul, mengapa warna langit itu biru? Apakah tercipta dari pantulan warna samudera di seluruh permukaan bumi ataukah warna biru itu merupakan warna yang muncul akibat cahaya matahari?
Gelombang Cahaya
Isaac-Newton-dan-PrismaGelombang cahaya yang tampak merupakan contoh dari salah satu gelombang elektromagnetik.
Cahaya yang tampak dan bersumber dari matahari sejatinya bukanlah gelombang cahaya yang terdiri hanya dari satu gelombang warna saja.
Cahaya matahari terdiri dari banyak gelombang dalam kumpulan cahaya, namun jika cahaya menyatu maka yang tampak hanya berwarna putih terang seperti cahaya matahari tersebut.
Sir Isaac Newton untuk pertama kalinya menguji coba seberkas cahaya tampak yang berasal dari matahari dilewatkan pada sebuah prisma kaca.
Hasilnya seberkas cahaya matahari melewati prisma dan terbias melebar, lalu beberapa warna terlihat akibat hamburan cahaya dari prisma tersebut.
Ternyata cahaya dapat terhambur (spectrum) oleh prisma kaca dan membuktikan bahwa cahaya putih ternyata terdiri dari beberapa macam warna seperti ungu, biru, hijau, kuning, orange dan merah.
Urutan cahaya tergantung dari besar kecilnya gelombang tersebut, biasanya akan berurutan dari merah, oranye (jingga), kuning, hijau, biru, nila (indigo) dan ungu atau dalam pelajaran sekolah dulu, sering disingkat agar mudah diingat, menjadi : MEJIKU-HIBINIU.
light-dispersion
Dibawah warna merah, warna tersebut mulai tak terlihat oleh mata manusia dan disebut sebagai cahaya yang “lebih rendah dari warna merah” atau Infra Merah (Infra Red).
Dan diatas warna ungu juga demikian, warna tersebut mulai tak terlihat oleh mata manusia dan disebut sebagai cahaya “lebih tinggi dari warna ungu” atau Ultra Ungu (Ultra Violet)
Ketika Cahaya Matahari Bertemu Atmosfir
Mengacu pada langit yang menjadi biru akibat cahaya matahari, maka sebelum cahaya matahari menjangkau permukaan bumi, langkah pertama yang harus dilalui oleh cahaya matahari tersebut adalah melewati lapisan udara tak kasat mata atau yang terkenal dengan istilah Atmosfer.
Diluar angkasa, cahaya matahari yang pada awalnya tidak berinteraksi dengan media apapun saat memasuki atmosfer mulai berinteraksi dengan molekul molekul udara yang dapat menyebabkannya terhambur ke segala arah.
spectrum
Hamburan ini terkenal dengan istilah hamburan Rayleigh. Hamburan Rayleigh merupakan hamburan elastis gelombang elektromagnetik (termasuk cahaya) yang disebabkan saat seberkas cahaya melewati partikel dimana panjang gelombang cahaya lebih panjang dari pada panjang gelombang partikel yang dilewatinya.
Pada kenyataannya, saat matahari melewati lapisan udara atau atmosfer, panjang molekul-molekul udara seribu kali lebih kecil dari pada panjang gelombang cahaya matahari itu sendiri.
Sehingga hal ini menyebabkan cahaya matahari terhambur menjadi beberapa macam gelombang warna seperti ungu, biru, hijau, kuning, orange dan merah.
Warna Biru Adalah Hamburan Spektrum Warna Terkuat
Hamburan warna biru merupakan hamburan warna terkuat atau setidaknya empat kali lebih kuat daripada hamburan warna-warna lainnya. Langit yang tampak biru tak lain merupakan hasil dari hamburan gelombang cahaya matahari yang didominasi oleh hamburan gelombang cahaya warna biru.
Warna langit biru yang didominasi oleh hamburan warna biru dari cahaya matahari. Sejatinya langit tidaklah memiliki warna, dan warna yang tercipta merupakan warna yang terjadi akibat hamburan dari cahaya matahari.
Saat malam pun juga demikian. Warna biru yang muncul saat bulan purnama atau saat bulan menyinari bumi adalah sebagai akibat dari terhamburnya cahaya matahari oleh molekul udara yang kemudian warna langit didominasi oleh warna biru. (Eko Hadi G / KafeAstronomi / atoptics.co.uk / allposters.com.au / wallcoo.net)
blue sky langit biru
*****
((( IndoCropCircles.wordpress.com )))

Jumat, 05 April 2013

Flashback Lebih Dekat : Meteor Bone Sulawesi 2009 (The Bone Impactor)

komet asteroid meteors comet header

Lebih Dekat Dengan Meteor Bone Sulawesi Selatan pada Tahun 2009 (The Bone Impactor)

Bone adalah nama satu kabupaten di propinsi Sulawesi Selatan, yang pada 8 Oktober 2009 lalu menggemparkan dunia internasional seiring terjadinya ledakan di udara (airblast) yang disebabkan oleh masuknya meteor besar ke dalam atmosfer Bumi.
Demikian besar energi ledakan ini sehingga 11 stasiun mikrobarometer dan infrasonik dalam jejaring IMS (International Monitoring System) di bawah koordinasi CTBTO (Comprehensive Test Ban Treaty Organization) atau organisasi pengawas larangan ujicoba nuklir berhasil merekamnya, padahal 5 stasiun diantaranya berjarak lebih dari 10.000 km dari Bone dan satu diantaranya bahkan sejauh 18.000 km. Bahkan ledakan ini merupakan yang terbesar sepanjang 15 tahun terakhir.
“The Bone Impactor” merupakan narasi sebuah asteroid yang melenceng orbitnya kemudian ditarik oleh gravitasi Bumi dan jatuh ke atmoser di atas Bone.
Asumsi yang digunakan di sini adalah : asteroid berbentuk bulat, tersusun oleh batu (stony), pancake factor bernilai 4, koefisien hambatan udara bernilai 2, atmospheric scale height bernilai 8 km dan perilaku asteroid sama dengan rata-rata asteroid yang suka masuk ke atmosfer Bumi pada umumnya, yakni kecepatan awal 20,3 km/detik pada sudut masuk 45 derajat. Seluruh perhitungan dikerjakan dengan persamaan-persamaan matematis dari Collins dan timnya (2005).
Meteor besar Bone mengawali kisah spektakulernya sebagai sebuah batu bergaris tengah 9,2 meter dengan massa 1.240 ton yang melayang di angkasa sebagai asteroid kelompok Apollo, yakni asteroid dekat Bumi yang obitnya memiliki perihelion (titik terdekat dengan Matahari) kurang dari 167 juta km dan memotong orbit Bumi.
Meteor Bone Sulawesi 02
Total ada 71 juta buah asteroid yang ukurannya sama dengan asteroid Bone. Asteroid dekat Bumi umumnya memiliki rasio aphelion perihelion 1,8 dengan kelonjongan orbit (eksentrisitas) rata – rata 0,286. Namun asteroid yang jatuh ke planet umumnya memiliki eksentrisitas 0,68 sehingga memiliki rasio aphelion perihelion sebesar 5,25.
Rasio yang lebih besar membuatnya lebih rentan menderita gangguan gravitasi Bumi, Mars atau Jupiter yang berpotensi membelokkan orbitnya hingga jatuh membentur planet. Karena itu masa hidup asteroid dekat Bumi di tata surya hanyalah selama 10 – 100 juta tahun atau jauh lebih pendek dibanding masa hidup planet yang bisa mencapai milyaran tahun. Secara rata-rata asteroid seukuran asteroid Bone akan jatuh ke Bumi setiap 12 tahun sekali.
Asteroid Bone pun demikian. Kalkulasi kasar menunjukkan aphelion orbit asteroid ini maksimum 5,25 AU atau melampaui orbit Jupiter sehingga sangat mudah diganggu gravitasi planet ini, terutama ketika melalui celah Kirkwood (2,5 AU dari Matahari) di Sabuk Asteroid.
Gangguan gravitasi membuatnya jatuh ke Bumi pada 8 Oktober 2009 pukul 11:25 WITA sebagai meteoroid . Meteoroid tidak mengalami hambatan berarti ketika mulai menembus atmosfer Bumi pada kecepatan awal 73.080 km/jam atau 68 kali lebih cepat dibanding peluru.
Namun mulai ketinggian 65 km, atmosfer mulai memadat dan menghasilkan tekanan yang menghambat laju asteroid. Hambatan menghasilkan panas yang membuat asteroid terablasi, dimana lapisan terluarnya mulai meleleh dan menguap, membentuk selubung plasma yang menutupi asteroid (coma) dan bentukan ekor yang khas.
Terbentuklah meteor besar dengan kecemerlangan luar biasa, yang pada puncaknya memiliki magnitude visual –12,93 atau 1,2 kali lebih terang dari Bulan purnama sehingga bisa terlihat dengan jelas di siang hari. Karena sebuah meteor yang lebih terang dibanding planet Venus (magnitude visual –4) maka akan bisa dilihat dengan jelas di siang hari.
Lapisan udara yang terus memadat begitu mulai memasuki lapisan stratosfer membuat tekanan yang diderita meteor besar Bone semakin besar. Sehingga pada ketinggian 37,79 km dan kecepatan tinggal 400 km/jam, tekanan telah melampaui kekuatan gaya ikat antar molekul penyusun meteor besar Bone dan hingga terjadilah pemecahan brutal (break–up) yang memproduksi sejumlah pecahan berukuran besar dan ratusan hingga ribuan pecahan kecil.
meteor bone sulawesi
Pasca break–up, laju pecahan–pecahan ini semakin menurun sehingga pada satu titik di ketinggian 29,78 km terjadilah perlambatan total, yang membuat seluruh energi kinetik yang dikandung meteor besar Bone terlepaskan dalam waktu yang sangat sebagai ledakan besar.
Ledakan ini melepaskan energi sebesar 250 Tera Joule atau setara dengan 60 kiloton TNT, 3 kali lipat lebih dahsyat ketimbang bom nuklir Hiroshima. Gelombang kejut yang dihasilkannya menghancurkan seluruh pecahan besar menjadi debu.
Namun gelombang kejut tidak berdampak apapun terhadap permukaan Bumi, karena di titik ground zero sekalipun (yang terletak tepat di bawah lokasi ledakan) gelombang kejut hanya menghasilkan over pressure sebesar 0,7 Pa atau jauh lebih kecil ketimbang limit 6.900 Pa yang menghasilkan dampak minimal berupa bergetarnya kaca jendela.
Sebanyak 0,1 % energi ledakan, yang setara dengan 250 GigaJoule, terkonversi menjadi energi akustik yang menyebar ke segala arah sebagai dentuman sonik dan infrasonik dengan kecepatan 972 – 1.150 km/jam.
Gelombang infrasoniknya menyebar sangat jauh hingga bisa mencapai posisi stasiun–stasiun IMS, yang mengkonfirmasikan ground zero berada di koordinat 4,5 LS 120 BT. Sementara dentuman sonik mencapai kota Watampone yang berjarak 40 km dari ground zero sebagai gelegar suara dalam waktu 150 – 180 detik.
Ketika energi akustik berhasil mencapai permukaan Bumi maka 0,017 % diantaranya terkonversi menjadi energi seismik yang menjalar sebagai gelombang Rayleigh.
Seismograf Pusat Gempa Nasional BMKG merekam gelombang ini sebagai gempa dengan magnitude 1,9 skala Richter yang setara dengan energi seismik sebesar 44,7 MegaJoule. Episentrum gempa berada pada posisi episentrum 4,68 LS 120,09 BT atau hanya 22 km dari ground zero versi IMS.
Pasca ledakan, dengan puncak magnitude visual lebih besar dari –10 sebagian kecil pecahan meteor terutama yang massanya dibawah 1 kg akan terus melanjutkan perjalanannya menembus atmosfer Bumi.
Proses ablasi berhenti beberapa kilometer di bawah ketinggian titik ledak sehingga pecahan–pecahan kecil ini berhenti memancarkan cahaya dan mulai menjalani proses pendinginan di lapisan troposfer hingga mencapai titik retardasi, dimana gravitasi Bumi mengambil alih sepenuhnya perilaku pecahan, sehingga akan jatuh ke Bumi sebagai meteorit dengan kecepatan 100 – 200 km/jam.
Lokasi episentrum gempa 1,9 skala Richter (BMKG) dan ground zero hasil pengeplotan stasiun infrasonik dan mikrobarometer (IMS) dalam peristiwa Ledakan Bone.
Lingkaran bergaris kuning pada gamba dibawah menunjukkan area berjarak 40 km dari episentrum BMKG, tempat meteori-meteorit dari ledakan Bone kemungkinan masih tersisa, meski lokasi persisnya harus menunggu data azimuth masuk asteroid terlebih dahulu.
Berkaca pada kejadian jatuhnya asteroid 2008 TC3, puluhan meteorit kecil dengan total massa 60 kg mungkin jatuh dalam area hingga radius 40 km dari ground zero, meski lokasi persisnya bergantung kepada azimuth awal meteor besar Bone.
Kejadian meledaknya meteor besar Bone sangat mengejutkan mengingat, selain merupakan ledakan terbesar dalam 15 tahun terakhir sejak peristiwa sejenis pada 1 Februari 1994 di atas Pulau Marshall (Pasifik Selatan), dimensi meteoroidnya cukup besar namun ironisnya tidak satupun program pelacak asteroid dekat Bumi seperti LINEAR, LONEOS, NEAT, Spacewatch maupun Catalina Sky Survey yang bisa mendeteksinya.
Meteor Bone Sulawesi 01
Berbeda dengan asteroid 2008 TC3 yang bergaris tengah 4 meter dan telah terdeteksi 19 jam sebelum meledak di atas gurun pasir Sudan pada 7 Oktober 2008 pukul 02:45 GMT. Selain itu energi ledakan meteor ini hanya sedikit di bawah ambang batas 100 kiloton TNT, dimana statistik menunjukkan 5 % meteor dengan energi sebesar itu masih menyisakan pecahan berukuran besar (+/- 60 % dari massa meteoroid) dan jatuh dengan kecepatan tinggi (5–7 km/detik) sehingga membentuk kawah tumbukan sembari melepaskan ledakan dalam orde 1–10 kiloton TNT.
Ledakan sebesar itu mampu memusnahkan kehidupan manusia dan merusak wilayah seluas 19 km persegi, sebagaimana yang dialami salah satu klan suku Nordik di Kaalijarv, pulau Saaremaa (Estonia), yang musnah 4.000 tahun silam akibat hantaman asteroid yang melepaskan energi 20 kiloton TNT.
Sementara sistem pertahanan Bumi seperti Space Guard sangat sulit mengeliminasi meteoroid seukuran ini karena keterbatasan resolusi pelacak. Berbeda dengan meteoroid berukuran besar, seperti yang meledak 4 – 5 km di atas hulu sungai Tunguska, Siberia (Russia) dengan melepaskan energi 20 – 30 megaton TNT pada 30 Juni 1908 silam yang disebabkan oleh jatuhnya inti komet berdiameter 30 – 40 meter, sistem Space Guard mampu melacaknya jauh hari sebelumnya sehingga menyediakan cukup waktu untuk bertindak preventif. (Ma’rufin Sudibyo)

((( IndoCropCircles.wordpress.com )))

Ada Berapa Planet di Galaksi Bimasakti? Ilmuwan Menjawab: Ada Sekitar 160 Milyar Planet!


“Peneliti menunjukkan bahwa seperenam Bimasakti dihuni oleh planet seukuran Jupiter, setengahnya oleh planet seukuran Neptunus dan dua pertiganya oleh planet Super-Earth. Itupun hanya yang ada pada jarak yang sudah terdeteksi.”
*
*
Studi terbaru menyatakan bahwa Bimasakti memiliki lebih banyak planet daripada bintang. Galaksi Bimasakti ternyata merupakan galaksi padat planet. Jumlah planet diperkirakan mencapai 160 miliar, sedangkan jumlah bintang adalah 100 miliar.
Tampak gambar ilustrasi Galaksi Bima Sakti (The Milky Way) dan posisi matahari kita.
“Statistik ini menunjukkan bahwa planet di sekeliling bintang adalah biasa, tak istimewa.
Mulai sekarang, kita harus melihat bahwa galaksi tidak hanya dipadati miliaran bintang, bayangkan bahwa mereka dikelilingi planet ekstrasurya,” kata Arnaud Cassan dari Paris Institute of Astrophysics.
Tercatat sebelumnya telah ada lebih dari 700 planet di luar tata surya kita yang terkonfirmasi.
Sementara itu, masih ada lagi 2.300 kandidat planet yang ditemukan wahana Kepler milik NASA yang menunggu kepastian.
Planet-planet itu ditemukan dengan dua metode, transit photometric dan radial velocity. Metode pertama mendeteksi planet dari kedipan cahaya bintang sebagai tanda adanya planet yang mengelilingi. Cara kedua dengan melihat “goyangan” bintang sebagai hasil gravitasi planet.

Dalam studi ini, peneliti memakai metode baru yang disebut gravitational microlensing. Dalam metode ini, planet dideteksi dengan adanya cahaya bintang yang dibiaskan atau dimagnifikasi oleh obyek yang mengelilinginya.
Peneliti mengungkapkan, gravitational microlensing memiliki kelebihan dibanding transit fotometri dan radial velocity. Gravitational velocity bisa mendeteksi adanya planet yang terletak jauh dari bintangnya, berbeda dengan kedua teknik lain yang cahaya bias pada planetnya hanya yang dekat bintang.
Gravitational Microlensing
Berdasarkan riset, peneliti menunjukkan bahwa seperenam Bimasakti dihuni oleh planet seukuran Jupiter, setengahnya oleh planet seukuran Neptunus dan dua pertiganya oleh super-Earth. Itu pun hanya yang ada pada jarak yang sudah terdeteksi.
“Lebih lanjut, kami menemukan bahwa planet bermassa rendah, seperti super-Earth (1-10 kali massa Bumi) dan serupa Neptunus, lebih melimpah daripada planet raksasa seperti Jupiter dan Saturnus (kira-kira 6-7 kali lebih banyak dari planet massa rendah),” kata Cassan seperti dikutip Space, Januari 2012.
Planet yang sebenarnya ada di Bimasakti mungkin sedikit lebih banyak daripada yang telah terhitung. Pada jarak yang belum bisa terdeteksi, mungkin masih ada banyak planet lagi.
Terlihat wilayah tengah (central) dari Galaksi Bima sakti (The Milkyway) pada sebuah pantai Amerika disaat malam hari.
Penemuan lain yang dipublikasikan tahun lalu dan dilakukan dengan teknik microlensing menunjukkan adanya planet seukuran Jupiter yang melayang sendirian, yatim piatu, tidak mengorbit bintang. Jumlah planet ini diperkirakan melebihi planet “normal” hingga 50 persen.
“Kedua hasil penelitian dengan microlensing menunjukkan bahwa planet ada di mana saja, tidak selalu mengorbit bintang,” jelas Cassan.
Sementara itu, “anomali” lain adalah ditemukannya planet yang berada pada sistem bintang ganda. Ini dulu hanya bisa dibayangkan dalam film fiksi ilmiah Star Wars.
William Welsh, astronom dari San Diego State University, seperti dikutip AP,  mengungkapkan, “Alam sepertinya suka membentuk planet sebab planet itu ditemukan di tempat yang diperkirakan sulit mendukung pembentukan planet.” (AP/SPACE.com/Kompas/icc.wp.com)
Terlihat wilayah tengah (central) dari Galaksi Bima sakti (The Milkyway) dihamparan langit dengan latar depan sebuah stasiun observasi Amerika disaat malam hari.

Ilmuwan Temukan Gelembung Energi Misterius di Galaksi Bima Sakti

Sebuah grup dari ilmuwan yang mengerjakan data dari Teleskop Angkasa Fermi Gamma-Ray milik NASA mengatakan bahwa mereka telah menemukan dua gelembung energi misterius yang bererupsi dari tengah galaksi Bima Sakti!

Gelembung yang berasal dari lubang hitam supermasif ini berjarak 25.000 tahun cahaya dan memiliki energi yang sama dengan 100.000 ledakan supernova!
“Gelembung-gelembung tersebut berukuran besar,” ujar Doug Finkbeiner dari Hardvard-Smithsonian Center for Astrophysics, pimpinan tim yang menemukan gelembung-gelembung tersebut. Demikian seperti yang diberitakan The New York Times, November 2010.
Dua buah "gelembung" di pusat galaksi Bima Sakti (foto ilustrasi)
Sumber dari gelembung-gelembung tersebut masih sebuah misteri.
Satu kemungkinannya bahwa gelombang tersebut mendapat tenaga dari gelombang kelahiran dan kematian bintang di pusat galaksi.
Opsi lain adalah gelembung tersebut mendapat tenaga dari lubang hitam di pusat galaksi Milky Way (Bima Sakti).
“Kita berpikir kalau kita tahu banyak mengenai galaksi kita, padahal tidak,” ujar David Spergel, seorang ahli astrofisika di Princeton University yang menunjukkan bahwa gelembung-gelembung sama besarnya dengan galaksi Milky Way.
Jon Morse, kepala astrofisika di kantor pusat NASA mengatakan penemuan ini menandakan bahwa alam semesta itu penuh dengan kejutan.
Satu orang yang paling terkejut adalah Dr. Finkbeiner. Setahun yang lalu dia menjadi bagian kelompok yang dipimpin oleh Gregory Dobler dari Kavli Instiute for Theoretical Physics di Santa Barbara, California, yang mengatakan bahwa mereka telah melihat kabut misterius yang penuh energi di sekeliling pusat galaksi Milky Way.
Bubbles emitting gamma rays extend above and below the Milky Way's center in an artist's rendering. Image courtesy SVS/GDFC/NASA
Pada waktu itu Dr. Finkbeiner dan para koleganya berspekulasi bahwa gelembung tersebut dihasilkan dari gelombang kegelapan. Pusat dari galaksi Milky Way adalah ‘rumah’ untuk semua fenomena energi, termasuk lubang hitam raksasa.
Akan tetapi beberapa teori kosmos juga menyatakan bahwa gelombang kegelapan mungkin akan berkonsentrasi di sana. Secara teori tabrakan dari partikel gelombang kegelapan bisa menyebabkan hujan sinar Gamma.

Dianalisa selanjutnya, di samping lebih besar dari yang Dr. Finkbeiner dan koleganya duga, galaksi tersebut ternyata memiliki batas. Sementara itu gelombang kegelapan memiliki bentuk yang lebih bias.
“Gelombang kegelapan sudah ada di sana selama miliaran tahun,” jelas Dr.Finkbeiner. “Jika sesuatu telah terjadi selama miliaran tahun, anda mungkin tidak akan berharap sebuah batas yang jelas,” tambahnya.
Dr. Finkbeiner dan para ilmuwan lain mengatakan ini bukan bermaksud kalau gelombang kegelapan tidak ada dalam pembentukan galaksi, tapi karena gelombang tersebut sangat sukar untuk dilihat. (sm/ar/ok/inl/kpt/icc.wp.com)

Wahana Terjauh: Voyager-1 Mulai Menjauhi Batas Tata Surya

Satelit NASA Masuki Batas Tata Surya

Kini satelit Voyager-1 telah memasuki kawasan yang disebut sebagai ‘stagnation region’.

Lebih dari tiga dekade setelah diluncurkan, satelit ruang angkasa Voyager-1 milik NASA sedikit lagi lepas dari tata surya. Ia kini telah memasuki kawasan baru yang letaknya ada di antara sistem tata surya dan ruang antar bintang.
Voyeger-1 berjarak 11 miliar mil dari Bumi dan adiknya, Voyager-2 berjarak 9,5 miliar mil dari Bumi.
Kawasan yang oleh para ilmuwan disebut sebagai ‘stagnation region’ itu berjarak hingga sekitar 113 astronomical units (AU) atau sekitar 16,9 miliar kilometer dari Matahari.
Voyager-1, yang kini berjarak 11 miliar kilometer dari Matahari telah menjelajah pinggir tata surya sejak 2004 dan mulai masuk ke stagnation zone pada awal pekan ini.
Meski begitu, satelit tersebut masih harus bertahan sedikit lagi sebelum ia benar-benar keluar dari tata surya.
Dan jika berhasil, ia akan menjadi benda luar angkasa buatan manusia pertama yang tiba di interstellar space, atau ruang maha luas yang berada di ruang antara bintang.
Menurut NASA, baterai milik satelit ruang angkasa buatannya itu hanya punya kapasitas yang cukup untuk memasok daya hingga 2020.
Wahana-wahana antariksa tak berawak milik peradaban manusia Bumi terjauh sepanjang sejarah manusia, Voyager-1, Voyager-2 dan Pioneer.
Namun demikian, ilmuwan memperkirakan, Voyager- 1 akan tiba di interstellar space sebelum baterainya habis. Diperkirakan, dalam hitungan bulan hingga beberapa tahun ke depan.
Pada ajang American Geophysical Union yang berlangsung di San Francisco, Ed Stone, Chief Scientist dari Jet Propulsion Laboratory NASA menyebutkan, pihaknya tidak bisa menentukan kapan Voyager-1 akan tiba di ruang tersebut.
“Kami tidak bisa menentukannya karena tidak ada pesawat ruang angkasa yang pernah pergi sejauh ini,” ucap Stone, seperti dikutip dari FoxNews, Selasa Desember 2011. “Perjalanan masih terus berlanjut,” ucapnya.
Wahana antarksa tanpa awak Voyager dan bagian-bagiannya.
Voyager-1, dan kembarannya yakni Voyager 2, diluncurkan pada 1977 dalam misinya menjelajahi planet-planet luar tata surya seperti Jupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus.
Setelah misi utama mereka tuntas, keduanya bergerak menuju interstellar space, namun menggunakan arah yang saling berlawanan.
Voyager 2, yang bergerak lebih lambat dibanding Voyager 1 kini berada di jarak 9 miliar kilometer dari Matahari. (art/vivanews/icc.wp.com)

Gravitasi Matahari Bisa “Undang” Datangnya Alien?



Ilmuwan menilai matahari merupakan alat komunikasi terbaik jika manusia bisa memanfaatkannya secara optimal. Bahkan, matahari dapat membantu komunikasi dengan alien. Lho koq bisa?
Jika gravitasi matahari dapat digunakan untuk menciptakan teleskop raksasa, manusia juga bisa mengirim dan menerima sinyal magnetik secara intensif yang memungkinkan kita berkomunikasi dengan peradaban alien.
Berdasarkan teori relativitas Einstein, massa matahari yang sangat besar merupakan media bagi ruang waktu di sekitarnya.
Ini menciptakan semacam tikungan sinar terang yang dapat dilewati oleh lensa raksasa.
Jika detektor ditempatkan pada jarak fokus yang sesuai untuk mengumpulkan cahaya, maka gambar yang dihasilkan dapat pula menghantarkan arus magnet besar.
Namun, titik fokus terdekat berada di 550 kali jarak antara Bumi dengan matahari.
Human can using the Sun to contacting Aliens
Meskipun demikian, kekuatan itu dapat dimanfaatkan oleh bumi untuk melihat obyek yang jauh, berkomunikasi dengan satelit antar bintang dan berhubungan dengan alien.
Teknik ini dapat diterapkan untuk cahaya optik atau cahaya yang lebih panjang dari spektrum radio.
Tambahan, meskipun jaringan yang lebih kuat dapat terbentuk dari penempatan pesawat anariksa yang mampu relay jaringan tapi ‘jembatan radio’ itu dapat mendistorsi komunikasi kosmik.
“Jika kita dapat memanfaatkan lensa grafitasi matahari, manusia dapat terus berhubungan dengan satelit dengan jarak berapapun,” kata Claudia Maccone, direktu teknis di International Academy of Astronautics, Paris.
“Ini adalah kunci untuk melakukan eksplorasi lingkungan galaksi manusia di abad mendatang,” tambahnya lagi. Hasil studi ini telah dipublikasikan di jurnal Acta Astronautica. (sm/ar/inl2/icc.wp.com)
*****
((( IndoCropCircles.wordpress.com )))

Fakta-Fakta Menarik Seputar Astronomi

Matahari adalah objek paling besar dalam tata surya kita dengan diameter (pada equator) sepanjang 1.392.140 km.
OBJEK TERBESAR DI TATA SURYA – Matahari adalah objek paling besar dalam tata surya kita dengan diameter (pada equator) sepanjang 1.392.140 km.
Urutan kedua ditempati oleh planet Jupiter dengan diameter 142.984 km. Di urutan berikutnya berturut-turut adalah Saturnus (120.536 km), Uranus (51.118 km), dan Neptunus (49.600 km).
Satelit terbesar, Titan dan Ganymede
Bumi kita menempati urutan ke-6 dalam daftar ini dengan diameter 12.756 km, disusul oleh Venus (12.103 km) dan Mars (6.794 km). Urutan ke-9 dan ke-10 diduduki oleh dua buah satelit alam masing masing Ganymede, satelit Jupiter (5.262 km) dan Titan, satelit Saturnus (5.150 km).
SATELIT ALAM TERBESAR – Ganymede dan Titan merupakan satelit alam (bulan) terbesar dalam tata surya kita.
Berikutnya berturut-turut disusul oleh Callisto (Jupiter/4.820 km) dan Io (Jupiter/3.632 km).
Bulan kita menempati peringkat kelima dengan diameter 3.475 km. Sementara itu, Europa (Jupiter/3.126 km), Triton (Neptunus/2750 km), dan Titania (Uranus/1.580 km) menyusul di urutan selanjutnya.
Daftar ini ditutup dengan Rhea (Saturnus/1.530 km) dan Oberon (Uranus/1.516 km) masing-masing di urutan ke-9 dan 10.
Planet Venus
ANOMALI VENUS – Venus berotasi pada sumbunya sedemikian lambat, bahkan lebih lambat daripada periode orbitnya.
Akibatnya satu tahun disana adalah lebih pendek daripada satu harinya (sehari di Venus setara dengan 243 hari di Bumi, sementara satu tahun Venus setara 225 hari Bumi).
Disamping itu Venus diketahui berotasi dari arah timur ke barat, kebalikan dari planet-planet lain di tata surya kita yang berotasi dari barat ke timur, karena itu di Venus matahari terbit dari arah barat dan terbenam di timur.
Perbandingan tujuh satelit terbesar di tata surya dengan Bulan (Lune)
SATELIT ALAM – Diantara kesemua planet anggota tata surya, hanya Bumi yang mempuyai satu-satunya satelit alam. Sementara itu, dua planat diantaranya, yakni Merkurius dan Venus sama sekali tidak memiliki satelit.
Planet-planet bagian luar di tata surya umumnya kaya akan satelit alam. Hingga kini, telah diketemukan puluhan satelit alam yang mengedari planet Jupiter, Saturnus dan Uranus.
Tidak semua satelit alam berbentuk bundar, tipikal sebuah planet. Kedua satelit Mars, Phobos dan Deimos serta satelit-satelit kecil yang mengedari Jupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus diketahui memiliki bentuk yang tidak beraturan.
Planet Uranus
SUMBU ROTASI – Planet Uranus memiliki kemiringan sumbu rotasi sebesar 98º.Hal ini menyebabkan kutub utaranya menunjuk ke bawah bidang garis edarnya.
Uranus, satu-satunya planet di tata surya yang rotasinya hampir menggelinding seperti bola terhadap matahari. Karenanya permukaan planet di kedua kutub memiliki malam yang lamanya setara dengan 21 tahun di Bumi.
PLANET TERPANAS – Walaupun Merkurius adalah planet terdekat dari Matahari, namun rekor sebagai planet terpanas justeru dipegang oleh Venus dengan suhu mencapai 482°C.
Hal ini ditengarai akibat efek “rumah kaca” dari atmosfir Venus yang kaya akan unsur Karbon Dioksida
Planet Merkurius
SUHU PALING EKSTREM – Planet dengan temperatur paling ekstrem dalam tata surya kita ialah Merkurius.
Temperatur siang hari disana mencapai hingga 427ºC, cukup panas untuk melelehkan logam seng.
Di malam hari, temperatur turun hingga -183ºC, cukup dingin untuk membekukan krypton.
Selain itu Merkurius tercatat sebagai planet yang letaknya paling dekat dengan Matahari
Proxima Centauri
BINTANG TERDEKAT – Bintang terdekat dari Bumi kita ialah Proxima Centauri.
Bintang sejauh 4,23 tahun cahaya ini terlalu redup untuk bisa dilihat dengan mata telanjang.
Bintang terdekat yang dapat dilihat dengan mata telanjang adalah Alpha Centauri (4,4 tahun cahaya) yang terlihat sebagai bintang paling terang pada rasi Centaurus di langit belahan selatan.
Perbandingan Matahari dengan Proxima Centauri dan bintang-bintang Centauri
PLANET PALING CEMERLANG – Apabila Jupiter dan Bumi dilihat dari jarak yang sama, maka Jupiter akan terlihat 164 kali lebih cemerlang.
Dilihat dari Bumi, panet yang paling cemerlang adalah Venus dengan magnitudo -4,4.
Bintang termuda, IRAS-4
BINTANG TERMUDA – 2 Protostar (calon bintang) yang dikenal sebagai IRAS-4 yang berada di dalam Nebula NGC 1333, 1.100 tahun cahaya dari Bumi adalah bitang termuda yang diketahui manusia.
Menurut para pakar astronom, keduanya baru akan mencapai fase stabil sebagai sebuah bintang setidaknya dalam 100.000 tahun mendatang.
Bintang tertua adalah bintang yang paling awal terbentuk
BINTANG TERTUA – Sekitar 70 buah bintang yang ditemukan oleh sebuah tim astronom.
Tim tersebut dipimpin oleh Timothy Beers dari Amerika Serikat diyakini sebagai bintang-bintang paling tua di dalam galaksi Bimasakti yang sejauh ini tercatat.
Bintang-bintang tersebut diperkirakan telah terbentuk pada sekitar 1 milyar tahun setelah peristiwa “big bang” (ledakan besar yang mengawali terbentuknya alam semesta).
Perbandingan bumi dengan matahari (atas) dan perbandingan matahari dengan Betelgeuse (bawah)
Perbandingan Betelgeuse, Antares dan Pistol.
BINTANG TERBESAR – Betelgeuse (Alpha Orionis) adalah bintang terbesar yang diketahui hingga sejauh ini. Bintang sejauh 430 tahun cahaya ini memiliki diameter 980 juta km atau 700 kali diameter matahari.
Bintang ini terlihat dengan mata telanjang sebagai sebuah bintang berwarna kemerahan di rasi Orion.
Namun kini rekor Betelgeuse sebagai bintang yang terbesar sudah bergeser ditumbangkan oleh penemuan-penemuan bintang lain yang jauh lebih besar.
Keadaan sebelumnya, meteorit terbesar ukuran 2,4 - 2,7 m di Hoba West, dekat Grossfontein, Namibia pada tahun 1920
BINTANG PALING CEMERLANG – Sebuah bintang yang disebut Pistol yang ditemukan oleh teleskop antariksa Hubble pada Oktober 1997 adalah bintang paling cemerlang dan juga yang terbesar yang diketahui.
Dan kuat intensitas cahaya yang terpancar dari bintang ini adalah sekitar 10 juta kali lebih cemerlang dari matahari.
Perhitungan oleh para astronom menunjukkan bahwa energi yang dipancarkannya dalam 6 detik setara dengan energi yang dipancarkan oleh Matahari selama satu tahun.
Pecahan meteorit terbesar di dunia, ukuran 2,4 - 2,7 m di Hoba West, dekat Grossfontein, Namibia
METEORIT TERBESAR – Pecahan meteorit berukuran antara 2,4 – 2,7 m yang ditemukan di Hoba West, dekat Grossfontein, Namibia pada tahun 1920 diduga merupakan meteorid terbesar yang pernah jatuh ke Bumi dan dapat ditemukan bongkahannya serta tercatat oleh manusia.
Pecahan meteorid tersebut berasal dari sebuah meteorit tunggal yang beratnya diperkirakan mencapai 59 ton.
Leonid meteor shower (2010)
HUJAN METEOR TERBESAR – Hujan Meteor Leonid yang terjadi tanggal 16-17 November 1966 dan terlihat dengan jelas mulai dari Amerika sebelah Utara dibagian baratnya, hingga ke Rusia bagian timur, merupakan hujan meteorid terbesar yang pernah tercatat.
Meteor-meteor yang terlihat melintas diatas langit di Amerika Serikat pada wilayah Arizona tersebut tercatat mencapai 2.300 buah meteor per menit pada waktu puncaknya hanya dalam waktu selama 20 menit saja.
Komet terbesar, Centaur 2060 Chiron
KOMET TERBESAR – Komet bernama Centaur 2060 Chiron merupakan komet terbesar.
Komet terbesar Centaur 2060 Chiron ini ditemukan pada tahun 1977.
Komet Centaur 2060 Chiron ini diketahui memiliki diameter sekitar 182 kilometer.
ASTEROID TERBESAR – Sedangkan asteroid terbesar adalah Ceres dengan diameter 941 kilometer yang berada di gugus sabuk asteroid diantara planet Mars dan planet Jupiter.
Asteroid Ceres merupakan asteroid terbesar yang selama ini diketahui dan berbentuk bulat bundar seperti layaknya sebuah planet.
Selain itu, asteroid ini justru juga tercatat adn merupakan asteroid yang pertama kali ditemukan.
ASTEROID TERKECIL – Rekor sebagai asteroid terkecil dipegang oleh asteroid dengan kode nama: 1993KA2.
Asteroid yang ditemukan pada tahun 1993 ini hanya memiliki diameter sekitar 5 meter saja.
GERHANA MATAHARI TERLAMA – Secara teori, gerhana matahari dapat berlangsung maksimal selama 7 menit 31 detik.
Gerhana matahari terlama yang pernah tercatat terjadi di Filipina pada tahun 1988 dengan durasi 7 menit 8 detik.
Gerhana matahari selama 7 menit 29 detik diperkirakan akan terjadi di tengah samudera Atlantik pada tanggal 17 Juli 2186.
KONSTELASI TERBESAR – Hydra (Naga Laut) merupakan konstelasi (rasi bintang) terbesar.
Konstelasi ini menutupi area seluas 1.302,844º persegi atau mencakup 3,16% dari seluruh langit dan beranggotakan setidaknya 68 bintang yang dapat dilihat dengan mata telanjang.
KONSTELASI TERKECIL – Crux Australis (Salib Selatan) adalah konstelasi terkecil di langit.
Ia hanya mencakup area seluas 68,477º persegi atau sekitar 0,16% dari seluruh langit.
OBJEK PALING CEMERLANG – Quasar HS1946+7658 adalah objek paling cemerlang di jagat raya.
Objek ini setidaknya 1,5 x 1015 kali lebih cemerlang dari Matahari kita.
OBJEK TERDINGIN – Nebula Boomerang, sebuah kabut debu dan gas yang terletak sejauh 5000 tahun cahaya dari Bumi
Nebula ini dipercayai sebagai objek paling dingin. Temperaturnya diperkirakan berkisar pada -270ºC (-454ºF).
TELESKOP TERBESAR - Teleskop terbesar di dunia saat ini adalah sepasang teleskop kembar berdiameter 10 m yang digunakan di Observatorium W.M. Keck di Mauna Kea, Hawaii.
Lensa masing-masing teleskop seberat 300 ton itu terdiri dari 36 buah cermin berbentuk segi enam yang digabungkan menjadi sebuah cermin pemantul (reflektor).
((( IndoCropCircles.wordpress.com )))

Ilmuwan “Panen” Planet: Ditemukan Lebih Dari 50 Planet Ekstrasurya Baru

Keberadaan spektograf HARPS (High Accuracy Radial Velocity Planet Searcher) yang terpasang pada teleskop berdiameter lensa 3,6 meter di observatorium La Silla di Chile mungkin adalah instrumen pemburu planet ekstrasurya paling handal.
Menggunakan instrumen ini, tim astronom HARPS yang dipimpin oleh Michel Mayor dari University of Jenewa, Swiss, berhasil menemukan 50 planet ekstrasurya baru, termasuk 16 planet yang masuk dalam kategori super-Earth, mirip Bumi namun dengan ukuran jauh lebih besar.
spektograf HARPS (High Accuracy Radial Velocity Planet Searcher) (courtesy: Wikipedia)
Penemuan tersebut diumumkan dalam konferensi Extreme Solar System yang berlangsung di Wyoming, AS, Senin (12/9/2011), di mana lebih dari 350 astronom berkumpul. Penemuan ini juga merupakan prestasi baru bagi para astronom, sebab berhasil mengumumkan penemuan planet ekstrasurya dalam jumlah terbanyak pada waktu yang bersamaan.
“Panen penemuan oleh HARPS telah jauh melampaui ekspektasi, meliputi penemuan populasi super-Earth yang kaya dan planet tipe Neptunus dengan bintang menyerupai Matahari. Lebih dari itu, penemuan ini menunjukkan bahwa laju penemuan planet semakin cepat,” kata Mayor seperti dikutip situs Eurekalert.
HARPS sendiri telah digunakan selama 8 tahun sebagai instrumen pemburu planet. Sejumlah 150 planet telah ditemukan, di mana dua pertiga di antaranya adalah planet dengan massa kurang dari Neptunus. Penemuan-penemuan itu adalah buah dari kerja keras para astronom selama ratusan malam.
HARPS telah membantu para astronom untuk meningkatkan metode estimasi, apakah 376 bintang mirip Matahari yang menjadi objek pengamatan dengan bantuan HARPS memiliki planet bermassa rendah.
Planet Gliese581c (ilustrasi)
Para astronom menemukan bahwa 40 persen dari bintang tersebut memiliki planet dengan massa kurang dari Saturnus.
Hardware dan software pendukung HARPS juga telah ditingkatkan sehingga mendukung observasi yang lebih sensitif pada planet batuan yang berpotensi mendukung kehidupan.
Astronom telah memilih 10 bintang untuk observasi mula dan berhasil menemukan 5 planet dengan kategori yang telah disebutkan, yang memiliki massa kurang dari 5 kali Bumi.
“Planet-planet ini akan menjadi target terbaik bagi teleskop antariksa masa depan, untuk melihat tanda kehidupan pada atmosfer planet tersebut dengan cara mendeteksi tanda-tanda kimiawi, seperti keberadaan oksigen,” ungkap Fransesco Pepe dari Observatorium Jenewa, Swiss.
Selain beberapa artikel beberapa waktu lalu yang menginformasikan bahwa  “Bumi-Bumi baru akan semakin banyak ditemukan” , hingga artikel terakhir bahwa ditemukan lagi beberapa planet ektrasurya lainnya.
planet HD85512b (ilustrasi)
Salah satu planet yang ditemukan dalam artikel “Satu Lagi, Ditemukan Planet (HD85512b) Yang Layak Untuk Dihuni”, adalah HD 85512b, memiliki massa 3,6 kali massa Bumi dan terletak pada zona dimana keberadaan air dalam wujud cair dimungkinkan.
“Ini adalah planet dengan massa terendah yang pernah ditemukan dengan teknik kecepatan radial (radial velocity) yang ada pada zona layak huni. Juga merupakan planet kedua yang pernah ditemukan pada zona layak huni,” jelas Lisa Kaltenegger dari Max Planck Institute of Astronomy di Heidelberg, Jerman dan Harvard Smithsonian Center for Astrophysics di Boston, AS.
Mayor mengungkapkan, penemuan HD85512b menunjukkan sensitifitas instrumen HARPS dalam mendeteksi planet, namun belum menunjukkan batasannya. HARPS saat ini mampu mendeteksi planet dengan massa kurang dari 2 kali Bumi dan dengan amplitudo radial velocity kurang dari kecepatan orang berjalan atau kurang dari 4 km/jam.
Ilustrasi pemandangan di permukaan Gliese581c Extrarasolar Planet (ilustrasi)
“Dalam waktu 10 atau 20 tahun ke depan, kita akan memiliki daftar planet berpotensi layak huni di yang mengorbit bintang tetangga Matahari. Daftar planet potensi layak huni ini penting untuk eksperimen lebih lanjut melihat tanda-tanda kehidupan di atmosfer planet tersebut,” kata Mayor yang pada tahun 1995 menemukan planet ekstrasurya pertama yang mengorbit bintang normal.
Kerja para astronom ke depan juga akan terbantu dengan adanya instrumen serupa HARPS yang diinstal di Telescipo Nazionale Galileo di Canary Island untuk untuk mendukung survei bintang-bintang langit utara dan instrumen bernama ESPRESSO yang akan diinstal di Very Large Telescope European Southern Observatory pada tahun 2016.
*****
((( IndoCropCircles.wordpress.com )))